Mianyang mengalokasikan anggaran riset dan percobaan (R&D) tahunan yang sangat masif, yakni mencapai 25,426 miliar yuan (sekitar Rp56 triliun). Angka ini mencerminkan intensitas R&D sebesar 5,85% dari PDB kota menjadikannya yang tertinggi di Provinsi Sichuan dan jauh melampaui rata-rata nasional China (sekitar 2,68%). Investasi riset yang sangat besar ini menjadi fondasi untuk menghasilkan paten, teknologi, dan inovasi yang kemudian tidak berhenti di laboratorium, tetapi didorong masuk ke sektor sipil dan dikomersialisasikan. Teknologi tersebut selanjutnya diindustrialisasikan melalui perusahaan-perusahaan di HIDZ Mianyang, menciptakan produk dan kapasitas industri baru yang pada akhirnya berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kota.
Dilanda Gempa Hebat, Dikepung Polusi Pekat, Kini Pusat Industri Robot Kelas Berat
Tangshan merupakan salah satu kota industri penting di Provinsi Hebei yang mengalami perubahan besar dalam lebih dari satu abad terakhir. Kota ini berkembang dari kawasan pertambangan batu bara menjadi pusat industri baja, kemudian menghadapi bencana gempa bumi pada 1976 serta persoalan polusi udara akibat industrialisasi. Dalam beberapa tahun terakhir, Tangshan menjalankan transformasi industri melalui modernisasi manufaktur, digitalisasi, dan pengembangan teknologi robotika sebagai bagian dari kebijakan pembangunan industri China.
Pada episode ini, kita akan melihat bagaimana proses transformasi tersebut dijalankan, mulai dari penataan kembali industri baja, pembangunan kawasan teknologi tinggi, hingga kolaborasi antara pemerintah, industri, dan universitas dalam mengembangkan ekosistem robotika. Kisah Tangshan memberikan gambaran mengenai tantangan, kebijakan, dan investasi yang diperlukan ketika sebuah kota berupaya mengubah struktur ekonominya dari industri konvensional menuju manufaktur berbasis teknologi.
Management Committee (Guanweihui) Kawasan Industri Teknologi
Keberhasilan kawasan industri di China selain karena kebijakan insentif ekonomi, faktor utamanya adalah kesuksesan model birokrasi baru yg disebut Komite manajemen kawasan ini.
Tanpa lembaga ini, investor tetap harus menghadapi birokrasi lama yang berlapis-lapis. Dengan adanya Guanweihui, pelayanan menjadi lebih cepat, koordinasi lebih sederhana, dan pemerintah daerah memiliki organisasi yang secara khusus bertugas menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Inilah sebabnya banyak akademisi internasional menggambarkan kawasan industri di China sebagai state spatial experiment atau experimental regionalism. Kawasan-kawasan tersebut bukan sekadar lokasi pembangunan pabrik, melainkan laboratorium tempat China menguji model birokrasi, regulasi, dan tata kelola baru sebelum diterapkan secara lebih luas di seluruh negeri.
Tobat dari Produksi Barang-Barang Murah ke Industri Teknologi Tinggi
Pada puncak kejayaannya, sekitar 30% mainan dunia, 20% smartphone dunia, 20% sweater rajut dunia, dan 10% sepatu olahraga dunia diproduksi di Dongguan. Hampir semua merek global bergantung pada kota ini. Bahkan para pelaku industri memiliki sebuah lelucon: “Kalau Dongguan macet satu hari saja, seluruh dunia akan kekurangan barang.”
Badai datang ketika krisis finansial global 2008 melanda. Permintaan dari Amerika Serikat dan Eropa merosot tajam sehingga pesanan ekspor anjlok. Ribuan pabrik kehilangan pelanggan dalam hitungan bulan, banyak perusahaan kecil dan menengah gulung tikar, sementara sebagian perusahaan besar mulai memindahkan produksinya ke negara dengan biaya tenaga kerja lebih rendah seperti Vietnam dan Bangladesh.
Dari Kota Mangkrak Menjadi Pusat Industri Teknologi Tinggi
Pada periode 2012-an Ordos sangat terkenal dengan sebutan “The Biggest Ghost City in The World”. Hampir semua media massa internasional memberitakan pembangunan properti berlebihan di kota ini, yang pada akhirnya kosong tanpa penghuni. Tapi itu dulu.
Saat ini pendapatan tahunan atau PDB kota Ordos mencapai 636,3 Miliar Yuan, atau dengan kurs sekarang, sekitar Rp1.683 Triliun. Dengan penduduk yang hanya 2,2 juta jiwa, berarti pendapatan per kapita-nya mencapai angka 286.500 Yuan atau Rp757,7 juta per tahun, alias mulai dari bayi baru lahir, balita yang masih merangkak, sampai lansia, secara teori punya jatah kue ekonomi Rp 60an juta per bulan”
Angka ini menempatkan Ordos sebagai juara PDB per kapita tertinggi di seluruh daratan China, mengalahkan kota megapolitan pesisir seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen
“Tidak Ada Biaya Siluman”, Kunci Industrialisasi Teknologi Tinggi
Di China , konsekuensi bagi ASN yang tertangkap melakukan korupsi—walau nominalnya kecil (misalnya hanya beberapa ratus Yuan)—sangatlah fatal:
Kehilangan Status Keanggotaan Partai dan Pekerjaan: Mereka akan langsung dipecat secara tidak hormat. Kehilangan status Gongwuyuan (PNS) berarti kehilangan seluruh reputasi sosial, jaminan pensiun yang aman, subsidi perumahan, dan asuransi kesehatan, bahkan sampai akses terhadap transportasi publik.
Efek Domino pada Keluarga: Berdasarkan sistem Social Credit Score dan aturan rekrutmen China , jika seseorang memiliki catatan kriminalitas atau pelanggaran disiplin partai yang berat, anak-anak dan cucu mereka atau sampai 3 generasi di masa depan merasakan kesulitan untuk mendaftar menjadi ASN, masuk militer, bekerja di BUMN, atau diterima di universitas elit. Tentu resiko ini dinilai terlalu besar atau tidak sepadan dengan uang sampingan, yang kadang hanya beberapa ratus yuan atau beberapa juta.
