Pada awal 2000-an, wajah paradoks kota ini semakin jelas. Penduduk melimpah, lokasi geografis strategis di jantung daratan, tetapi industri teknologi bernilai tinggi hampir tidak ada. Pemerintah daerah mulai menyadari sesuatu yang mendesak: mereka tidak bisa selamanya bergantung pada “ekspor manusia”. Industri harus dibawa datang, bukan manusianya yang terus dikirim pergi.
Industrialisasi tidak selalu harus dimulai dari laboratorium canggih. Kadang-kadang yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca kebutuhan industri dan keberanian untuk bergerak lebih dulu daripada daerah lain. Zhengzhou membuktikan itu — dan dari sanalah sebuah kota yang dulu hanya dikenal sebagai pengirim buruh mulai menulis babak baru sejarahnya sebagai salah satu pusat manufaktur teknologi terpenting di dunia.
